• Sabtu, 18 April 2026

Siswahyu Kurniawan Ajak Belajar, Usai AS - Israel Serang Iran, Presiden Prabowo Penting Fokus Swasembada

Photo Author
Aris Taufiq Febrianto, Mojokerto 24 Jam
- Jumat, 6 Maret 2026 | 13:36 WIB

Mojokerto24-Indonesia penting untuk objektif dan menyeimbangkan posisi dalam geopolitik untuk kepentingan rakyat bangsa - negara berdasarkan Cita-Cita Proklamasi 17 Agustus 1945 yang penegasannya terdapat di dalam UUD 1945 di dalam Preambule (Pembukaan). Semoga Presiden Ke-8 RI Jenderal TNI (Purn) Prabowo Subianto Djojohadikusumo (PSD) niat ikhtiar serius untuk hal itu.

Cita-cita Proklamasi 1945 yang penegasannya di dalam Pembukaan UUD 1945 diantaranya adalah:

"..... Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah Kemerdekaan Kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia,...."


Kalau menilai bahwa seluruh Presiden RI itu bersalah, tentu masing-masing mereka memiliki kesalahan, tidak ada manusia yang sempurna. Apalagi jika satu per satu dari ratusan juta rakyat membuat pernyataan, pasti diantara rakyat itu ada jutaan pula yang menilai presiden memiliki kesalahan.

Ya, semua tentu memiliki kesalahan. Tinggal dilihat kadar kesalahannya apple to apple, tinggal dilihat niatnya untuk bangsa negara ini. Dengan dilihat berdasarkan acuan terhadap Cita-Cita Proklamasi 1945, siapakah presiden yang paling bisa mewujudkan?

Presiden Ke-1 RI Ir. Sukarno (Bung Karno) pada awal-awal kemerdekaan dengan Demokrasi 'Permusyawaratannya' sesuai dengan Sila Ke-4 Pancasila namun kemudian tidak lagi. Serta Politik Bebas Aktif dengan Non - Blok, namun kemudian dinilai cenderung ke kiri dan tidak Non - Blok lagi? Lantas krisis ekonomi yang parah dan inflasi (hiperinflasi) tensinya terus naik hingga mencapai 600 persen lebih pada tahun 1965 - 1966, hingga kesejahteraan untuk rakyat pun tidak tercapai. Tuntutan massa diantaranya digerakkan generasi muda mahasiswa, TRITURA, tiga tuntutan rakyat: 1). Bubarkan PKI; 2). Bersihkan Kabinet Dwikora dari unsur-unsur yang terlibat G30S/PKI; 3). Penurunan harga dan perbaikan ekonomi. Bung Karno pun jatuh, dan kemudian (belakangan) ada analisa ada yang menunggangi: Amerika Serikat yang bermusuhan dengan komunisme.


Presiden Ke-2 RI Jenderal TNI (Purn) HM Soeharto (Pak Harto) yang meskipun dengan segala opini yang berkembang saat Peristiwa 1965 namun karena dorongan berbagai situasi - kondisi darurat saat itu lantas mengambil tindakan untuk stabilitas negara. Kemudian ikhtiar mewujudkan tuntutan TRITURA dan memajukan kesejahteraan umum: murah sandang pangan seger kewarasan. Berhasil mewujudkan tuntutan TRITURA? Namun kemudian ada yang menilai tidak demokratis sehingga terjadi Reformasi Mei 1998 yang menuntut agar tidak ada Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN). Pak Harto pun jatuh. Massa yang menggerakkan diantaranya generasi muda mahasiswa. Mengutip Prof. Dr Mahfud MD (Pak Mahfud): setelah Reformasi hingga kini ternyata KKN kian masif. Dari atas sampai ke bawah ikut bancakan. Mana tanggung jawab pihak yang sebut diri Angkatan 1998 termasuk kami? Apakah tuntutan hapus KKN itu berhasil? Yang jelas Pak Harto jatuh. Yang beberapa tahun pasca Reformasi baru menyadari kejatuhan Pak Harto ada yang menunggangi: oligarki 'negatif' yang tidak mau ketika ditagih untuk ikut berbuat untuk kepentingan rakyat. Oligarki yang turut aktif agar Reformasi terjadi dan chaos sehingga mereka bisa memindahkan ratusan triliun bahkan ribuan triliuan ke luar negeri. Oligari yang konspirasi dengan kekuatan asing: Amerika Serikat ataukah Tiongkok? Yang tidak ingin pemerintah Indonesia maju, tidak ingin pemerintah bisa sejahterakan rakyatnya.


Dari dua presiden itu apakah akan terus kita ulang kekisruhan demi kekisruhan?

Berbagai negara lain mengalami berbagai kekisruhan, juga karena ada kekuatan global yang mendorong: agar tidak menjadi negara maju, dan agar kisruh terus. Kubu-kubu kekuatan dunia, LIBERALISME maupun KOMUNISME (kemasan baru?) yang merasa 'raksasa' yang melakukan intervensi dengan berbagai cara termasuk dengan perang terbuka, dengan infiltrasi, dengan menguasai ekonomi dan melemahkannya, dengan mendikte para pemimpinnya, dengan melemahkan mental rakyat dan generasi muda gen z, sehingga menjadi pesimis terhadap negara masing-masing bahwa tidak akan bisa maju. Opini-opini liar bahkan menjadi buzzer-buzzer pun berkembang dari warga negara, turut melemahkan negaranya masing-masing dan mereduksi negara masing-masing.


Ada yang mengagung-agungkan negara lain dan serasa 'asal' bersuara: itu lho Tiongkok bagus, itu lho Amerika bagus, itu lho Rusia bagus, itu lho Korea Utara bagus. Lantas pertanyaannya: maukah kita dipimpin dengan cara-cara yang diimpor dari negara-negara itu atau dengan 'ramuan' yang dicampur dari berbagai negara itu?

Ada yang punya pikiran termasuk kami, untuk Indonesia kuat diantaranya bahwa agar: Keluarga Besar Bung Karno dan Keluarga Besar Pak Harto harus bersatu. Jangan malah terlibat provokasi pecah belah untuk kepentingan politik sendiri akan tetapi semua harus kembali pada: Cita-Cita Proklamasi 1945.


Yang jelas di dunia ini dinilai, minimal ada dua kekuatan besar yang berusaha mendominasi yaitu LIBERALISME VS KOMUNISME yang harus diwaspadai sebagai rakyat bangsa Indonesia: yang satu 'main' kekerasan dan perang untuk tundukkan penguasa negara lain, sedangkan yang satunya seolah-olah 'charity' membantu negara lain dengan kerjasama ekonomi akan tetapi diam-diam juga untuk 'mematikan' para penguasa negara lain agar tunduk kepadanya termasuk untuk membuka lapangan kerja bagi warganya yang berjumlah sekitar 1,41 milyar jiwa.

Serangan Amerika Serikat ke Iran dengan kekerasan, motivasi utamanya kurang lebih sama: seperti upaya menundukkan Maduro Presiden Venezuela, sekaligus soal upaya 'menguasai' Sumber Daya Alam (SDA) negara lain melalui upaya pergantian penguasa dan sekaligus berusaha menghambat 'raksasa' rivalnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Aris Taufiq Febrianto

Artikel Terkait

Terkini

Krisis TPA Randegan Mojokerto

Jumat, 10 April 2026 | 16:56 WIB
X