Ketika ditanya soal latihan militer terbaru China di sekitar Taiwan menyusul penjualan senjata AS senilai US$11,1 miliar kepada Taiwan, Lee mengatakan menjaga perdamaian di Selat Taiwan sangat penting.
Dia menegaskan, Singapura menjunjung kebijakan satu China, menentang kemerdekaan Taiwan, serta menolak perubahan sepihak terhadap status quo.
“Namun masalahnya, dalam dunia nyata, status quo tidak pernah bersifat statis atau beku. Ia dinamis dan terus bergeser,” ujarnya. “Negara-negara menyesuaikan posisinya, negara lain bereaksi, lalu pihak lain kembali bereaksi atas reaksi tersebut.”
Meski semua pihak menyatakan tengah mempertahankan status quo, namun dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi pergeseran menuju “ketegangan dan masalah” di Selat Taiwan, kata Lee.
“Itu sangat mengkhawatirkan. Saya berharap kita dapat secara bertahap meredakan situasi.”
Ia menambahkan masih ada harapan, karena jika Washington “ingin menghindari konflik dengan China untuk saat ini, mereka juga akan berhati-hati agar tidak membiarkan Taiwan memicu hal tersebut”.
“Dan saya pikir dengan pemerintahan (Donald Trump) ini, ada banyak hal yang diperdebatkan orang soal kebijakannya. Namun terkait Taiwan, saya tidak melihat mereka melakukan hal-hal yang keliru belakangan ini.”
HUBUNGAN PERDAGANGAN
Di bidang perdagangan, Lee mengatakan dampak tarif yang diterapkan Presiden AS Donald Trump tidak seburuk yang dikhawatirkan, meski situasinya masih terus berkembang.
“Hasilnya tidak seburuk itu, karena tarifnya lebih rendah dari yang awalnya dilaporkan, karena penerapannya lebih lambat, dan karena AS mengalami lonjakan teknologi AI yang mendorong perekonomian mereka. Itu ikut mengerek kita, tetapi kita harus memahami bahwa ini adalah perubahan yang drastis,” ujarnya.
Dampaknya akan memerlukan waktu untuk benar-benar terasa, karena negara-negara lain akan bereaksi “untuk melindungi diri, menerapkan pembalasan, atau mungkin mengamankan rantai pasokan mereka sendiri”, katanya.
Hal ini akan menghasilkan perekonomian global dengan “stabilitas yang lebih rendah, pertumbuhan yang lebih lambat, kemakmuran yang berkurang, integrasi ekonomi yang menurun, serta kemajuan teknologi yang lebih terbatas”, ujarnya. “Saya rasa hal itu tidak diragukan lagi.”
Artikel Terkait
Tokoh Nasional Anies Baswedan Turun Tangan Serukan Alarm Kemanusiaan untuk Sumatera
HASIL RAPAT KOPERASI JAWA TIMUR (KOPPIJAS)
Ahmad Dzaki Akmal Yuda IMM UPN Jatim Ucap Selamat M. Hafid Ridho Jadi Ketum IMM Mojokerto
Enam DPC PPP Gorontalo Pilih Awaludin, Tedy Neu: Suara Kader jangan Diabaikan
Membiarkan "Racun" di Nadi Desa: Menggugat Pembiaran Pemdes Terhadap Penyelewengan BUMDes Jadi Sarang Maksiat.
Minim Pengawasan, Pemdes Dinilai Beri Ruang Bebas Praktik Judi dan Maksiat di Aset BUMDes Gejugjati.
BUMDES ATAU SARANG MAKSIAT ? Penjualan arak dan judi berkedok Usaha Desa di Desa Gejugjati TERBONGKAR !
Hari Gerakan Sejuta Pohon 10 Januari 2026, Rayakan World Planting a Million Trees Day
Ridwan Hisjam, Kader Golkar yang Namanya Tak Pernah Redup dari Panggung Politik
Dua Dermaga Plastik Taman Bahari Mojopahit di Kota Mojokerto Telan Rp 400 Juta