Namun menurut Lee, sikap AS tersebut memiliki dampak jangka panjang terhadap sistem global yang didasarkan pada Piagam PBB, hukum internasional, dan kesepahaman bahwa negara-negara harus hidup berdampingan secara damai dan saling bekerja sama.
“Berperang membawa konsekuensi yang berat dan sangat tidak terduga,” ujar Menteri Senior Lee.
Di bidang keamanan, negara-negara Eropa tengah berdiskusi mengenai tanggung jawab yang dapat mereka ambil di bidang pertahanan serta bagaimana mereka dapat bersatu dalam menentukan kebijakan keamanan sendiri dan mengurangi ketergantungan pada AS, kata Lee.
“Ini bukan hanya soal anggaran yang besar, tetapi juga kesulitan dalam merumuskan kebijakan keamanan Eropa—mulai dari arah hingga tindakan. Dan ini merupakan perubahan mendasar bagi dunia,” ujarnya.
Lee menambahkan bahwa Ukraina, yang berperang dengan Rusia di tengah sikap Amerika Serikat yang “sudah sangat berbeda”, kini harus memikirkan jalur ke depan yang realistis.
Sementara itu, negara-negara Asia Pasifik juga akan “meninjau ulang posisi mereka dengan cermat”, katanya. AS tetap menjadi mitra keamanan dan ekonomi yang sangat penting, namun China merupakan mitra utama yang terus berkembang, khususnya dalam sektor ekonomi dan lainnya.
“Saya kira banyak hal di Asia Pasifik akan bergantung pada bagaimana China memutuskan untuk berinteraksi dengan negara-negara tetangga di kawasan dan dengan dunia,” kata Lee. China telah menyampaikan “pernyataan-pernyataan yang tepat” mengenai multilateralisme, perdagangan, dan sistem berbasis aturan, dan “kami berharap hal itu dapat terwujud dalam kebijakan yang nyata”.
“Kini kita berada di dunia yang berbeda, dan kita akan melihat konsekuensi dari perubahan besar ini, baik di bidang ekonomi maupun keamanan, pada 2026 dan bertahun-tahun setelahnya,” kata Lee.
“Kami berharap tidak ada lagi guncangan … tidak ada yang bisa memprediksi hal-hal semacam ini, tetapi kami berharap 2025 akan menjadi tahun yang lebih ‘menegangkan’ dibandingkan 2026.”
KETEGANGAN DI SELAT TAIWAN
Menurut Lee, AS dan China sama-sama berupaya menghindari persaingan yang memakan biaya ekonomi besar, termasuk di sektor mineral tanah jarang, farmasi, dan elektronik.
Namun, persoalan yang “mendasar” adalah bahwa AS merupakan kekuatan penjaga status quo dan ingin menahan laju China atau paling tidak membuatnya tertinggal, sementara bagi China, hak untuk berkembang tidak bisa ditawar lagi, katanya.
“Lalu bagaimana kedua hal itu bisa dipertemukan?”
Ketegangan antara kedua negara akan tetap ada, kata Lee, demikian pula potensi terjadinya “salah tafsir” oleh salah satu pihak jika terjadi insiden, misalnya seperti ketika balon udara China memasuki wilayah udara Amerika Utara pada 2023.
“China bukan pihak yang mudah ditekan. Amerika Serikat, dengan segala kesulitannya, tidak akan menghilang dan, seperti yang sering dikatakan (mantan Menteri Luar Negeri AS) Henry Kissinger, perang antara AS dan China tidak bisa dimenangkan dan tidak boleh terjadi,” kata Lee.
“Namun, saya rasa itu bukan hal yang paling dipikirkan oleh para pengambil keputusan saat ini.”
Artikel Terkait
Tokoh Nasional Anies Baswedan Turun Tangan Serukan Alarm Kemanusiaan untuk Sumatera
HASIL RAPAT KOPERASI JAWA TIMUR (KOPPIJAS)
Ahmad Dzaki Akmal Yuda IMM UPN Jatim Ucap Selamat M. Hafid Ridho Jadi Ketum IMM Mojokerto
Enam DPC PPP Gorontalo Pilih Awaludin, Tedy Neu: Suara Kader jangan Diabaikan
Membiarkan "Racun" di Nadi Desa: Menggugat Pembiaran Pemdes Terhadap Penyelewengan BUMDes Jadi Sarang Maksiat.
Minim Pengawasan, Pemdes Dinilai Beri Ruang Bebas Praktik Judi dan Maksiat di Aset BUMDes Gejugjati.
BUMDES ATAU SARANG MAKSIAT ? Penjualan arak dan judi berkedok Usaha Desa di Desa Gejugjati TERBONGKAR !
Hari Gerakan Sejuta Pohon 10 Januari 2026, Rayakan World Planting a Million Trees Day
Ridwan Hisjam, Kader Golkar yang Namanya Tak Pernah Redup dari Panggung Politik
Dua Dermaga Plastik Taman Bahari Mojopahit di Kota Mojokerto Telan Rp 400 Juta