Mojokerto 24-Trawas di lereng Gunung Penanggungan tak hanya menjadi destinasi wisata alam favorit, tetapi juga melahirkan produk kopi dengan kualitas yang diakui. Kawasan ini menyimpan potensi besar dalam dunia perkopian, terutama melalui tiga produk utama yang berkembang di Desa Ketapanrame, yakni Kopi Bontugu, Kopi Bendil, dan Kopi Dlundung.
Kopi Bontugu menjadi salah satu kebanggaan warga setempat. Produk ini menghadirkan dua jenis kopi, arabika dan robusta, yang dikembangkan di kawasan Perhutani Dusun Ketapanrame. Proses pengolahan dilakukan di basecamp atau rumah produksi di Tapan Ledok yang dikelola oleh Pak Sanyoto. Berkat lokasi tanam yang berada di dataran tinggi dengan iklim sejuk, Kopi Bontugu menghasilkan cita rasa yang khas.
Berbeda dengan Bontugu, Kopi Bendil lebih fokus pada kopi robusta. Usaha ini berdiri sejak tujuh tahun silam di Dusun Slepi, Desa Ketapanrame, Trawas, Mojokerto. Penamaannya berasal dari hutan Bendil, sebuah kawasan yang sejak lama dimanfaatkan warga sebagai media tanam kopi. Lingkungan alami hutan tersebut memberi karakter kuat pada robusta Bendil, sehingga menambah variasi rasa kopi Trawas di pasaran.
Tak kalah penting, Kopi Dlundung hadir dari kawasan hutan Dlundung yang terkenal sejuk dan asri. Kopi ini juga memiliki dua varian, arabika dan robusta. Keunggulannya terletak pada kondisi ekosistem hutan yang masih terjaga, membuat biji kopi tetap alami, segar, dan berkualitas tinggi.
Selain keanekaragamannya, kopi Trawas menyimpan fakta unik. Jenis arabikanya dikenal sebagai salah satu yang terbaik, dengan rasa khas yang kerap digambarkan menyerupai daun mint. Kopi ini tumbuh di ketinggian sekitar 1.100 meter di atas permukaan laut, menjadikan bijinya manis secara alami. Saat proses penyangraian, aroma kopi Trawas juga lebih kuat dibandingkan dengan kopi dari daerah lain.
Potensi ini menjadikan kopi Trawas semakin diminati, tidak hanya oleh masyarakat lokal, tetapi juga wisatawan yang berkunjung ke Mojokerto. Kombinasi cita rasa unik, kualitas biji yang unggul, dan latar belakang sejarah yang menarik menjadikan kopi Trawas sebuah identitas budaya sekaligus ekonomi bagi masyarakat setempat.
Dengan terus dikembangkan, kopi dari lereng Penanggungan ini berpeluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas dan mengangkat nama Trawas di kancah nasional maupun internasional.
Artikel Terkait
Kredit UMKM Melambat, Ini Penyebabnya
Harga BBM Terbaru Jumat 3 April 2026, Lengkap Pertamina, Shell, Vivo hingga BP
Ide Kreatif Bangun Ekonomi Di Mojokerto dengan PING OJEK
Mengenal Dewi Nurani, Perempuan yang Meneliti Tentang Dakwah Politik Anies Baswedan di Jakarta
Acara Tasyakuran dan Halal Bihalal Dewan Pimpinan Wilayah Jawa Timur Gerakan Rakyat Di Hadiri Ketua Umum
KELOPAK MATA PEMERINTAH SEPERTI TERTUTUP! KRITIS : STOCK BULOG KOSONG, HARGA KOMODITI MINYAK, LPG DAN KEDELAI NAIK DRATIS, RAKYAT MENJERIT.
Pimpinan Redaksi Mojokerto 24 Mengucapkan Happy Milad Ke-26 Yayasan Permata Mojokerto
Jadwal Semifinal Piala AFF Futsal 2026: Indonesia vs Vietnam, Garuda Tanpa Beban
Fenomena “Login Muhammadiyah”: Gaya Baru Beragama di Era Digital?
Krisis TPA Randegan Mojokerto