• Sabtu, 18 April 2026

Fenomena “Login Muhammadiyah”: Gaya Baru Beragama di Era Digital?

Photo Author
Aris Taufiq Febrianto, Mojokerto 24 Jam
- Kamis, 9 April 2026 | 21:07 WIB


Mojokerto24-Fenomena “login Muhammadiyah” ramai diperbincangkan di media sosial belakangan ini, khususnya oleh kalangan generasi muda. Istilah yang populer di platform seperti X (Twitter) dan Instagram ini dinilai bukan sekadar tren digital. Fenomena ini mencerminkan perubahan cara beragama di era modern.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Fajar Junaedi turut menanggapi fenomena ini. Ia menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan bentuk ekspresi baru yang lahir dari ruang digital.

“Istilah ‘login Muhammadiyah’ digunakan anak muda untuk menunjukkan ketertarikan, bahkan komitmen terhadap nilai-nilai Muhammadiyah, dengan cara yang lebih ringan dan kekinian,” ujarnya dalam wawancara daring, Senin (6/4).

Menurutnya, fenomena ini menandai pergeseran identitas keagamaan dari yang sebelumnya bersifat turun-temurun (ascribed identity) menjadi pilihan sadar (voluntary identity). Generasi muda kini cenderung “memilih” cara beragama setelah melalui proses pencarian, perbandingan, dan pertimbangan rasional.

“Ini bukan perubahan substansi agama, tetapi perubahan dalam cara ekspresi dan internalisasi. Dari yang sebelumnya cenderung formal dan ritualistik, kini menjadi lebih rasional, inklusif, dan berdampak sosial,” jelasnya.

Login Muhammadiyah: Identitas Islam dan Tajdid Digital

Dalam perspektif sosial dan politik keagamaan, fenomena ini juga mencerminkan bentuk baru ekspresi identitas Islam di ruang publik digital. Identitas keagamaan tidak lagi ditampilkan melalui simbol fisik dan ritual semata, melainkan melalui konten digital yang ringkas, interaktif, dan mudah viral.

“‘Login Muhammadiyah’ menjadi cara anak muda mengafirmasi identitas Islam moderat di tengah polarisasi yang kerap terjadi di ruang publik digital,” kata Fajar.

Ia menilai tren ini turut memperluas basis simpatisan Muhammadiyah lintas latar belakang, tidak terbatas pada mereka yang berasal dari keluarga Muhammadiyah. Hal ini sekaligus memperkuat posisi Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang inklusif dan relevan di era digital.

Lebih jauh, fenomena “login Muhammadiyah” ini dinilai selaras dengan semangat tajdid (pembaruan) yang menjadi ciri khas Muhammadiyah sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 1912. Prinsip rasionalitas dan keterbukaan terhadap kemajuan zaman menemukan bentuk barunya dalam ekspresi digital generasi muda.

“Anak muda tidak lagi menerima agama secara pasif, tetapi aktif mempelajari dan mengamalkannya melalui berbagai platform digital. Ini adalah bentuk aktualisasi tajdid di era disrupsi,” tambahnya.

Risiko Reduksi Makna

Meski demikian, Fajar mengingatkan adanya potensi risiko dalam fenomena ini. Ketika identitas keagamaan dikemas dalam bentuk tren populer, ada kemungkinan terjadi penyederhanaan makna atau bahkan reduksi nilai.

“Tidak semua yang ‘login’ benar-benar memahami nilai dan manhaj Muhammadiyah. Ada risiko munculnya ‘Muhammadiyah lite’, yang kuat dalam narasi tetapi lemah dalam praktik,” ungkapnya.

Fenomena ikut-ikutan (fear of missing out/FOMO) juga berpotensi menjadikan identitas keagamaan sekadar simbol atau “branding” tanpa diiringi pemahaman mendalam dan amal nyata.

Strategi Respons Muhammadiyah

Untuk merespons fenomena ini, Fajar menekankan pentingnya langkah strategis dari Muhammadiyah agar tetap relevan tanpa kehilangan substansi. Salah satunya adalah dengan memperkuat dakwah digital melalui konten yang tidak hanya menarik, tetapi juga edukatif.

Selain itu, ia mendorong adanya program pendampingan atau onboarding bagi generasi muda yang tertarik, seperti kelas pengenalan manhaj, mentoring virtual, hingga komunitas berbasis minat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Aris Taufiq Febrianto

Artikel Terkait

Terkini

X