Mojokerto24-Musyawarah Wilayah PPP Gorontalo menjadi titik terang bagi perkembangan partai di daerah ini, setelah enam Dewan Pimpinan Cabang (DPC) secara bulat memilih Haji Awaludin Pauweni sebagai Ketua Wilayah PPP Gorontalo. Keputusan ini dianggap bukan sekadar pergantian figur kepemimpinan, melainkan ledakan harapan kolektif dari para kader yang telah lama menantikan kebangkitan partai.
Menurut Tedy Neu, salah satu tokoh PPP Gorontalo terkait dengan dinamika internal partai, Haji Awaludin dipandang sebagai simbol pemersatu, figur kader sejati, serta representasi spirit perjuangan PPP yang selama ini hilang dari khalayak kader.
Kata Tedy Sejarah menunjukkan bahwa PPP Gorontalo pernah menunjukkan kekuatan meskipun dalam keterbatasan posisi formal. Ketika tongkat estafet kepemimpinan berada di tangan Sofyan Puhi—yang hanya menjabat sebagai anggota DPRD Kabupaten Gorontalo—soliditas kader tetap terjaga dengan baik. Bahkan dalam kondisi tersebut, partai mampu mempertahankan kursi di DPR RI melalui Dr. A.W. Thalib. Hal ini menegaskan bahwa kekuatan partai tidak ditentukan oleh jabatan elit, melainkan oleh legitimasi kepemimpinan dan kepercayaan yang diberikan oleh para kader.
Namun, kata Tedy kemunduran mulai terasa ketika Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PPP mengintervensi hasil Musyawarah Wilayah dengan memaksakan Muhalim Liti sebagai Ketua Wilayah. Sejak saat itu, PPP Gorontalo memasuki fase rapuh dengan munculnya faksionalisasi internal, runtuhnya soliditas kader, dan penurunan drastis semangat juang partai. Konsekuensinya sangat nyata: kursi DPR RI yang sebelumnya dipegang harus lepas dari genggaman partai.
Kemudian kata Tedy, Harapan kembali muncul ketika DPP kemudian mengembalikan kepemimpinan wilayah kepada Prof. Nelson Pomalingo, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Gorontalo. Banyak kader meyakini bahwa figur kepala daerah akan menjadi lokomotif untuk membawa PPP Gorontalo bangkit kembali. Namun realitas menunjukkan hal yang berbeda—harapan kader tidak terjawab secara konkret, energi struktural partai tidak terkonsolidasi, dan semangat kader kembali melemah. Akibatnya, PPP Gorontalo gagal merebut kembali kursi DPR RI.
Tedy mengatakan Keputusan enam DPC untuk memilih Haji Awaludin menjadi titik balik yang dinantikan. Namun kekhawatiran muncul setelah ada indikasi bahwa DPP akan mengalihkan kepemimpinan kepada Bupati Ismet Mile. Jika hal ini terjadi, maka DPP dinilai sedang mengulang sejarah kelam dengan mematikan aspirasi kader, melemahkan semangat juang, dan mempertaruhkan masa depan elektoral PPP Gorontalo.
Terakhir Tedy memberikan Catatan konstruktif, dalam dinamika internal partai menunjukkan bahwa PPP Gorontalo tidak kekurangan kader hebat. Yang selama ini melemahkan partai bukan kekurangan figur kepemimpinan, melainkan pengabaian terhadap aspirasi kader dan kedaulatan organisasi daerah. Bagi PPP yang ingin bangkit di Gorontalo, kunci utama yang tidak boleh diabaikan adalah menghormati dan menjalankan keputusan yang dihasilkan dari Musyawarah Wilayah. Tanpa hal tersebut, sejarah kegagalan hanya akan terus berulang dan kepercayaan kader akan semakin terkikis.