Mojokerto24-Di sebuah rumah sederhana di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, waktu seakan berhenti, menahan napas bersama keluarga kecil yang hidupnya kini digantungkan pada harapan. Nada Putri Masruri, balita yang dulu memenuhi ruang dengan tawa, kini berjuang melawan tubuhnya sendiri. Setiap detik adalah perlombaan dengan kehilangan, setiap doa adalah ikatan agar harapan tidak runtuh.
Tawa kecil Nada Putri Masruri dulu kerap memenuhi ruang kelas taman kanak-kanak tempat ibunya mengajar. Ia sering duduk di sudut ruangan, berlarian kecil di antara anak-anak lain, seolah menjadi jawaban dari doa panjang yang dipanjatkan orang tuanya selama tujuh tahun. Namun waktu, perlahan, mengubah segalanya.
Pada usia satu setengah bulan, tanda-tanda ganjil mulai muncul: bagian putih matanya menguning, warna tinjanya pucat. Pemeriksaan medis kemudian menyingkap kenyataan pahit: Atresia Bilier, kelainan langka pada saluran empedu yang merusak hati. Tak berhenti di situ, dokter juga menemukan kelainan jantung bawaan jenis ASD secundum.
Sejak saat itu, Nada bukan lagi balita ceria, melainkan pasien kecil yang harus bolak-balik rumah sakit. Operasi Kasai yang dijalani pada usia 95 hari gagal menurunkan kadar bilirubin. Harapan yang sempat tumbuh, runtuh. Infeksi datang berulang, tubuhnya gatal hingga luka, perutnya membesar, kulitnya menggelap. Di usianya yang kini lebih dari dua tahun, Nada belum mampu berjalan sendiri. Semua aktivitasnya bergantung pada gendongan.
“Dia sebenarnya anak yang kuat,” ucap Siti Aisyah, sang ibu, dengan mata berkaca. “Kalau mau tindakan medis, dia seperti mengerti. Tangisnya bukan rengekan, melainkan keberanian kecil yang membuat kami tetap bertahan.”
Satu-satunya harapan medis yang tersisa adalah transplantasi hati. Namun biaya ratusan juta rupiah menjadi tembok besar yang sulit ditembus. Ayah Nada, M. As’ad, hanya berpenghasilan sekitar Rp1 juta per bulan sebagai tenaga honorer rumah sakit. Ibunya, seorang guru TK, menerima upah Rp300 ribu per bulan. Tabungan telah habis, perhiasan dijual, pinjaman diupayakan, namun jumlahnya masih jauh dari kebutuhan.
Di tengah keterbatasan, keluarga ini tetap menggenggam harapan. Bagi mereka, setiap hari adalah upaya menunda kemungkinan terburuk. Setiap doa adalah cara menjaga harapan tetap hidup.
Nada, anak yang ditunggu selama tujuh tahun itu, kini sedang berpacu dengan waktu. Dan bagi ayah-ibunya, yang tinggal di Dusun Krajan 1, Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur, yang tersisa bukan lagi sekadar keinginan akan kesembuhan, melainkan satu harapan yang terus dipegang: kesempatan. Kesempatan agar Nada bisa mendapatkan transplantasi hati tepat waktu. Kesempatan agar suatu hari nanti ia kembali berlari, bukan menuju ruang perawatan, melainkan ke masa kecil yang sempat tertunda.
Uluran tangan Anda bukan sekadar angka. Ia adalah tambahan waktu, kesempatan, dan harapan bagi Nada untuk tetap bertahan. Selain donasi, dukungan doa dan penyebaran informasi ini juga sangat berarti.
Artikel Terkait
Tuntut Sikap Tegas, Gerakan Rakyat Minta RI Batalkan Perjanjian Dagang dengan Amerika Serikat
Perkenalkan Gerakan Rakyat Mojokerto Kota, Official Store Atribut Gerakan Rakyat
IDJ RESMI DILUNCURKAN, KOPPIJAS BANTU FASILITASI PENGEMBANGAN USAHA BINAAN
Menebar Senyuman dan Berbagi Kebahagiaan, Anak Yatim Dhuafa Yatim Mandiri Mojokerto Antusias Ikuti Buka Puasa Bersama TNI AD di Yonif Linud 503
Dari secangkir kopi kita bertemu dan berinpirasi , agres community berbagi takzil dijalan
Gerakan Rakyat Mengecam Berat Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus
DPR Peduli, H. Tasirin SH MH & H. Thoriq Majiddanor SE, SH, MHP Didukung Warga Lamongan 2029 - 2034
DPR Peduli, H. Tasirin SH MH & H. Thoriq Majiddanor SE, SH, MHP Didukung Warga Lamongan 2029 - 2034
Ketua Umum PWI Pusat Resmikan Ruang Pengurus di Jawa Timur, Perkuat Sinergi Organisasi
Harianto Kades Cangkring - Lamongan: Warganya Ingin Pindah Ikut Wilayah Kabupaten Bojonegoro