mojokerto24-Tokoh nasional Anies Baswedan saat memberangkatkan truk kemanusiaan untuk masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumut dan Sumbar.
Dalam waktu kurang dari dua minggu, masyarakat Indonesia bersama Anies Baswedan dan Gerakan TurunTangan bahu membahu, warga bantu warga, untuk menolong saudara-saudara kita yang tertimpa musibah bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Dikutip Mojokerto24 dari kanal YouTube Podcast Pedjuang!, Sabtu, 3 Januari 2016, host Akbar Buku menarasikan dengan judul, ‘’Anies Turun Tangan Serukan Alarm Kemanusiaan untuk Sumatera.’’
‘’Masyarakat Indonesia bersama Anies Baswedan dan Gerakan TurunTangan bahu membahu, warga bantu warga untuk menolong saudara kita di Sumatera. Lewat siapa? Lewat warga. Dari warga dan untuk warga. Kita menyebutnya warga bantu warga dan dari situ negara menjadi penonton yang cukup terharu,’’ kata Akbar Buku.
Akbar lantas mengajak jujur walau sebentar. Ia melanjutkan, sepuluh ton ini bantuan yang indah tetapi sekaligus menyedihkan. Hal ini karena setiap kali rakyat bergerak lebih cepat dari negara. ‘’Ini bukan sekadar kabar baik. Ini alarm bahwa ada yang sedang terlambat. Ada yang sedang tersendat. Ada yang sedang salah arah,’’ papar Akbar.
Ia menegaskan, banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat bukan karena air datang. Tetapi lantaran hutan tak lagi punya kuasa menahan. Tanah tak lagi diberi waktu untuk bernafas. Dan sungai diberikan panggung untuk menanggung dosa yang sejatinya bukan miliknya.
‘’Bencana alam kata kita. Padahal alam sedang mengirim memo keberatan. Pemerintah diminta serius. Bukan serius bikin konferensi pers ataupun klarifikasi. Tapi serius merombak tata Kelola hutan dan lahan. Karena kalau tanpa banjir bandang ini yang hanya disebut musibah. Kita hanya akan terus diam. Ini bukan ketidaktahuan tapi bentuk penghindaran saja,’’ tutur Akbar dalam narasinya.
Di tengah peristiwa Sumatera ini, masyarakat kemudian bergerak, relawan turun tangan, donasi mengalir, logistic disusun tanpa tender, tanpa nota dinas, tanpa rapat berjam-jam bahkan berhari-hari. Cepat, efisien tanpa mengklaim pahlawan karena mereka mengirim bantuan bukan untuk pencitraan, tapi demi bantuan.
‘’Dan di sinilah ironi menampar kita. Negara dengan anggaran triliunan kalah sigap hanya dari warga yang hanya celengan digital. Mungkin masalahnya bukan uang tapi prioritas. Karena uang bisa dicari, tapi keberpihakan harus dipilih. Lembaga pembiayaan juga tidak bisa cuci tangan karena dana yang mengalir ke proyek-proyek pemerintah ekstratif tak pernah benar-benar netral. Setiap tanda tangan pendanaan adalah suara yang menunjukkan dukungan,’’ ungkap Akbar.
Dikatakan, ketika banjir datang, kita bisa melihat ini bukan efek dari sekadar tanda tangan. Ini adalah resiki yang sudah diberi catatan kaki tapi sengaja dilewati. Yang lebih menyedihkan, bukan hanya hutan yang hilang tapi ingatan yang pendek. Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, yang polanya mirip.
‘’Peringatannya sama dengan bencana-bencana sebelumnya. Responnya itu lagi, itu lagi. Seolah kita hanya menonton episode panjang dari serial berjudul Kesalahan yang sama musim berikutnya. 10 ton bantuan kali ini adalah pahala. Tapi jangan sampai menjadi alibi. Alibi bahwa negara boleh santai karena rakyat selalu siap menambal. Padahal, solidaritas warga seharusnya hanya melengkapi negara,’’ kata Akbar.
Saat ini, warga sudah bergerak. Sekarang pertanyaannya tinggal satu, negara mau menyusul atau terus bertepuk tangan saja dari pinggir lapangan.