Mojokerto24-Bangunan masjid pada masa Majapahit didirikan di dekat alun-alun. Filosofi tata kota yang kelak diterapkan banyak daerah pada era modern.
’’Dari cerita di Kidung Sunda, dapat diketahui bahwa lokasi masjid di zaman Kerajaan Majapahit berdekatan dengan Lapangan Bubat,’’ tutur Pamong Budaya Pertama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XI Tommy Raditya Dahana.
Lapangan Bubat tak ubahnya alun-alun di zaman sekarang. Area lapang yang berada di tengah kota itu menjadi tempat upacara penting keraton. Berbagai kegiatan pertemuan akbar dengan rakyat dan tamu kerajaan juga digelar di kawasan tersebut.
Peta jantung kota itu mirip dengan tata letak di zaman sekarang. Banyak kota dan kabupaten, termasuk di Jawa, yang menempatkan masjid di sekitar alun-alun. Umumnya, keberadaan masjid berada di sebelah barat. Masjid itu umumnya disebut agung karena lebih besar dibanding lainnya.
Dalam naskah kuno Negarakertagama, Empu Prapanca menuliskan terdapat dua alun-alun di ibu kota Majapahit, yaitu Alun-Alun Bubat dan Alun-Alun Waguntur. Kedua alun-alun itu memiliki fungsi sebagai pusat kegiatan sosial, budaya, dan politik di Wilwatikta.
Lapangan Bubat memiliki karakter lebih merakyat. Pesta rakyat kerap diadakan setiap tahun pada bulan Caitra (Maret/April) di lapangan ini. Pada 3-4 hari terakhir perayaan, berbagai pertunjukan seni, permainan tradisional, dan kegiatan hiburan lainnya digelar dengan kehadiran raja. Sejarawan J Noorduyn berdasarkan Negarakertagama menyebut lapangan Bubat terletak di sebelah utara lingkungan istana Majapahit dan menghadap ke barat.
Sejarawan Trowulan, Supriyadi, memperkirakan letak lapangan Bubat berada di sebelah barat Kolam Segaran. ’’Konon lokasinya ada di sebelah barat kolam Segaran karena di situ ada nama Dusun Bubat,’’ terangnya.
Adapun Lapangan Waguntur memiliki karakter lebih sakral. Terletak di dalam kompleks pura raja Majapahit, lapangan ini digunakan untuk upacara penobatan atau resepsi kenegaraan yang penting. Di lapangan Waguntur, terdapat Siti Inggil, area yang lebih tinggi dan dianggap suci.
Keberadaan Alun-Alun Waguntur menunjukkan betapa pentingnya fungsi ritual dan spiritual di dalam kehidupan masyarakat Majapahit. Seperti halnya Alun-Alun Lor di Kraton Yogyakarta atau Surakarta yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan kenegaraan. ’’Tidak disebutkan secara rinci posisi lapangan ini di kompleks ibu kota. Hanya menyebutkan berada di dalam pusar keagamaan,’’ tandas Supriyadi.
Artikel Terkait
Partai Gerakan Rakyat Magetan Jawa Timur Kantongi Surat Terdaftar dari Bakesbangpol Pemkab
Bahas Program Pelatihan, Bidang Ideologi Politik Silaturahmi dengan DPC Gerakan Rakyat Kecamatan Karang Pilang Surabaya
Bersama Merawat Persatuan Bangsa, Kajati Jatim Hadiri Mujahadah Kubro Satu Abad NU di Malang
Gerakan Rakyat Desak Hapus Ambang Batas Parlemen di Pemilu 2029
Tangan Dingin Olifiansyah di Balik Bangkitnya Bontangku dan Ekspansi PT Okin Kreatif Digital
Ahmad Dzaki Akmal Yuda IMM UPN Jatim: Turut Berduka Wafat Adi Sutarwijono Ketua DPRD Surabaya
Futuhiyah Sukses Travelindo
Features Lansia Pedagang Es Dawet di Mojokerto Difitnah Cabuli Siswi SD, Tak Jualan Tiga Hari, Trauma Diancam Dilaporkan Polisi
Pemkot Mojokerto buka bimbingan manasik haji tahun 2026
Yayasan Permata Mojokerto Sambut Ramadan dengan Family Walk dan Donor Darah